Mengalah Bukan Berarti Kalah

  Mengalah Bukan Berarti Kalah



Ucok adalah seorang laki berusia 16 tahun. Ia dikenal memiliki kepribadian yang baik, cerdas dan lemah lembut. Ciri khas yang dimiliki membuatnya ia dipilih menjadi ketua kelas.

Laki itu menyadari bahwa menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah dimana ada begitu banyak hal yang harus ia lakukan dalam memimpin seperti mengatur, mengontrol, dan menciptakan suasana yang aman, tertib dan bersahabat. Dengan bekal keyakinan yang kuat ia mampu memimpin teman-temannya dengan baik.

Pagi itu cerah namun tak begitu cerah bagi Jawir dan otan. Sebelum jam pelajaran dimulai kedua sahabat itu sedang berkelahi. Ketika Ucok mengetahui bahwa terjadi perkelahian di dalam kelas, dia segera menyelesaikannya menemui mereka dan menghentikan perkelahian yang terjadi.

“Hentikan perkelahian ini,” Ucok angkat bicara.

“Jangan ikut campur urusan kami. Urus saja urusanmu sendiri,” jawab Jawir

“Kenapa kalian bertengkar? Apakah dengan berkelahi dapat menyelesaikan masalah?”

“Aku tak terima kalau Otan menghina namaku?” jawab Jawir

“Sudahlah Ma'e, mendingan kamu jujur ​​saja kalau kamu sudah menghina Pe'u. Sebagus atau sejelek apapun nama kita, itulah nama pemberian orang tua kita. Jadi, janganlah saling menghina. Saat ini juga kamu minta maaf sama Jawir.”

“Aku tak bisa minta maaf sama dia. Kenapa kamu membela Jawir?”

“Saya tak membela siapa pun. Saya hanya mengingatkan saja.”

“Bila saja kamu membela dia. Oh… karena kalian bersahabat makanya saling membela?”

“Bukan begitu maksudku,” jawab Ucok.

Sebagai pemimpin, Ucok harus lebih banyak menunjukkan kesabaran. Ia mengalah tetapi bukan berarti kalah. Ia tidak ingin menunjukkan integritas kepemimpinan yang salah di hadapan teman-temannya.

Menjadi pemimpin harus siap menerima segala resiko. Melihat sikap Susi yang luar biasa membuat Ma'e menyadari kesalahan yang diperbuatnya dan ia meminta maaf kepada Susi dan Pe'u.

“Susi, maafkan aku ya, atas sikapku yang kasar,” Mail menyesal.

“Iya, tidak apa-apa, yang terpenting kamu sudah menyadari akan kesalahanmu.”

“Aku bangga sama kamu, Ucok. Meskipun aku sudah bicara kasar tapi kamu tidak marah sama aku. Aku berjanji kalau aku akan meminta maaf sama Jawir.”

“Syukurlah kalau begitu.”

Keesokan harinya Mail meminta maaf kepada Jawir karena ia sudah menyadari bahwa sikapnya sudah menyakiti hati Jawir.

“Jawir, aku mau minta maaf sama kamu.”

“Minta maaf untuk apa?”

“Aku sudah menghina kamu. Aku baru sadar bahwa seharusnya aku tidak menghina namamu.”

“Aku sudah memaafkanmu. Tapi lain kali jangan lagi kamu menghina aku.”

“Iya, aku janji.”

Ucok berhasil mengubah sikap Mail. Dengan jiwa kepemimpinannya kedua sahabat itu yang semula berkelahi kini telah berdamai dan kembali bersahabat.

Komentar